Arsip Film di Titik Rapuh, Perlu Perhatian Khusus demi Kota Sinema

1 month ago 12
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

KOTA SINEMA — Warisan sinema Jakarta masih rapuh. Kendati memiliki Sinematek, lembaga arsip film tertua di Asia Tenggara. Sebagian koleksinya tak terurus dan jauh dari standar preservasi modern. Padahal di sanalah jejak sejarah film Indonesia—dari gulungan seluloid, foto produksi, hingga naskah asli—disimpan.

Sejarawan J.J. Rizal menyebut kelemahan pengarsipan ini sebagai ganjalan besar bagi ambisi Jakarta menjadi Kota Sinema versi UNESCO. “Seberapa layak Jakarta menjadi Kota Sinema, tergantung seberapa serius kita dengan pusat perfilman dan Sinematek,” ujarnya dalam Focus Group Discussion bertema Jakarta Kota Sinema di Jakarta Pusat, Kamis, 4 Desember 2025.

Rizal melihat pemerintah belum serius dengan peran penting Sinematek. Lembaga itu sama seperti Pusat Perfilman H. Usmar Ismail dan perpustakaan H.B. Yassin adalah aset bersejarah yang terabaikan. “Sinematek kini menjadi ‘mumi’ dalam kondisi yang lusuh di Kuningan,” keluhnya.

Merespons ucapan Rizal, Staf Khusus Gubernur Jakarta, Wakil Ketua Bidang Pemerintahan, Fadhilannisa Apridini, sepakat bahwa untuk menjadi Kota Sinema, Jakarta perlu menempatkan warisan dan artefak film sebagai salah satu indikator kunci. Hal ini penting untuk merawat sejarah sinema Indonesia sebagai fondasi pengembangan masa depan.

Ketika kita sudah menyatakan jadi Jakarta Kota sinema artinya kita sudah harus siap juga untuk memikirkan dan mengembangkan Sinematek Indonesia,” ucap Fadhilannisa.

Ia membandingkan dengan pengalamannya saat meninjau Asian Film Archive di Singapura. “Mereka tidak hanya mengarsipkan film, tetapi mengelolanya sebagai pusat edukasi, ruang pemutaran, hingga destinasi wisata,” katanya.

Lembaga pengarsipan di negara tetangga itu juga mengembagnkan cara pendanaan yang beragam, mulai dari hibah, donasi, keanggotaan (membership), hingga penjualan merchandise film lawas.

Sebab itu, Pemprov Jakarta, kata Fadhilannisa, berharap Tempo menggelar diskusi lanjutan dengan tema khusus yang menghadirkan Sinematek. “Agar kita tahu persis apa kebutuhan mereka.”

Selain Sinematek, ternyata Perpustakaan Nasional juga menyimpan arsip film dalam skala kecil. Secara umum dikategorikan dengan nama koleksi audio visual, baik untuk bahan kajian maupun bahan rekreasi.

Bentuknya beragam ada VCD/DVD, piringan hitam, kaset pita, micro film,” tutur pustakawan Perpustakaan Nasional Arief Delta Riswanto. Koleksi DVD ini berupa film atau rekaman suara, dari sekitar 20.000, separuhnya berupa film.

Judul-judulnya ada film lawas seperti Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Jogja (1951), Pacar Ketinggalan Kereta (1989), hingga Petualangan Sherina (1999),” papar Arief.

Ternyata kegiatan pengarsipan bukan semata dilakukan oleh institusi pemerintah. Ada pula Moses Parlindungan dengan bendera Atmakanta yang rajin blusukan demi mengamati media lawas.

Arsip seputar sinema bukan hanya berupa artikel di media. Bisa juga berupa poster film, di masa lalu dia hasil lukisan,” kata Moses.

Menurut dia, benda semacam itu juga merupakan arsip mengenai film. “Itu menjadi sumber referensi mengenai mengenai referensi kultural pada masa itu,” tukasnya. “Saya pikir arsip-arsip di luar bentuk audio visual menjadi sangat penting.”

Peneliti Budaya dan Arsip, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erniati juga memandang penting pengarsipan film-film klasik ini. Dokumen-dokumen lama itu menggambarkan perjalanan panjang budaya. Busana misalnya, dapat menjadi literasi dan inspirasi generasi terkini untuk menghasilkan bentuk baru. “Mungkin ada pergeseran, karena zaman yang telah berubah.” (*)

Read Entire Article