Gayo Lues, Aceh (ANTARA) - Harga bahan pokok di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembali normal pascaakses bahan bakar minyak (BBM) berangsur pulih setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda daerah itu pada akhir November 2025.
Pedagang sayur, Rika (45), saat ditemui di Pasar Terpadu Gayo Lues, Kecamatan Blangkejeren, Rabu, mengatakan harga kentang sempat naik hingga Rp25,000 dari harga normal Rp15.000 per kilogram.
"Kalau kentang, kami jual dulu Rp15.000, terus naik Rp25.000. Kena dampak kami itu. (Sekarang) sudah turun (ke) Rp15.000," ucapnya ketika berbincang dengan ANTARA.
Rika menuturkan naiknya harga sayur-mayur setelah bencana hidrometeorologi melanda karena BBM sulit diakses sehingga ongkos logistik meningkat. Di samping itu, akses jalan yang menghubungkan Gayo Lues dengan daerah pemasok bahan pokok terputus.
"Dulu enggak ada datang. Jalannya sudah longsor, kek mana? Limpul (lima puluh) pun dibawa orang. (Harga BBM) Rp50.000 pun per liter dibawa orang. Kek mana mau jalan, enggak ada bensinnya," ujar dia.
Rika (45), pedagang sayur di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu (28/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)Senada, pedagang beras, Seripah (44), mengatakan harga beras sempat menyentuh Rp35.000 per liter usai bencana. Namun, memasuki akhir Januari 2026, harga beras sudah turun ke angka Rp28.000-an.
Menurut Seripah, harga berangsur turun karena pasokan beras dari luar Gayo Lues sudah mulai masuk kembali. Saat bencana terjadi, kata dia, beras yang diandalkan hanya dari berbagai kampung di Gayo Lues yang sebagian besar terdampak bencana.
"Waktu dulu harga beras itu naik. Sekarang enggak lagi," tuturnya ditemui di lokasi yang sama.
Seripah (44) (kanan), pedagang beras di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu (28/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)Sementara itu, pedagang telur, Ami (50), menyebut harga satu papan telur atau setara 30 butir saat ini berkisar Rp50.000, setelah sebelumnya sempat melonjak ke Rp80.000. "Itu harga normal," ucap dia.
Ami mengatakan melonjaknya harga telur terjadi karena akses jalan menuju Gayo Lues terbilang ekstrem. Menurut dia, waktu tempuh dari luar Gayo Lues saat bencana terjadi bisa mencapai 36 jam.
"Biasanya kan cuma 7-8 jam," katanya sembari menyebut pasokan telur mayoritas dikirim dari Sumatera Utara.
Selain karena akses jalan yang sulit, Ami menyebut BBM juga mempengaruhi tingginya harga telur ketika itu. "Sulit sekali BBM kalau dulu waktu terjadi itu kan otomatis beberapa hari, ya, jalannya kan semuanya amblas," katanya.
Kendati harga bahan pokok kembali normal, daya beli masyarakat di Gayo Lues masih perlu genjotan.
Para pedagang menuturkan bahwa transaksi jual beli di pasar terpadu dalam beberapa hari terakhir belum menggeliat. Kondisi ini disebut terjadi karena mata pencarian masyarakat Gayo Lues, yang sebagian besarnya bertani dan berkebun, belum sepenuhnya pulih.
"Kemarin pertanian orang habis, ya. Ada yang sawahnya habis. Ada yang di sawah itu menanam cabai, habis. Menanam bawang, jagung, segala macamlah. Yang berkebun di hutan, ada yang longsor. Kopinya ada yang longsor," ucap Ami.
"Biasanya orang kalau mau Ramadan, orang banyak belanja, beli perlengkapan. Soalnya jauh dari (Kecamatan) Terangun, dari Pining. Ini kan enggak bisa jalan. Jalannya belum bagus, duitnya enggak bagus. Susah. Biarpun susah, sudah agak lumayan ketimbang hari itu (saat bencana terjadi) enggak ada harapan kayaknya orang," imbuh dia.
Baca juga: MBG di Gayo Lues dibagikan langsung kepada siswa di pengungsian
Baca juga: Jembatan penghubung desa terisolasi di Gayo Lues rampung pekan ini
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445267/original/074850000_1765846008-Ayaneo_Pocket_Play_Mirip_Xperia_Play_01.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443631/original/093420600_1765705921-Paul_Golding_Headshot.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5445498/original/027719300_1765857841-Timans_MLBB_Men_Indonesia_01.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5442827/original/066682400_1765602374-iOS_26.2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5446120/original/097028500_1765873369-Jay_Jang.jpeg)