Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit Zoonosis. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa jenis kelelawar penyebab virus Nipah bukanlah spesies langka, melainkan kelelawar buah yang cukup umum dan bahkan hidup berdekatan dengan aktivitas manusia.
Virus Nipah dikenal sebagai infeksi serius yang dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan antarmanusia. Tingkat kematiannya tergolong tinggi, sehingga pemahaman mengenai sumber penularan menjadi langkah penting dalam pencegahan.
Kelelawar Buah adalah Inang Alami Virus Nipah
Berbagai studi ilmiah menyebutkan bahwa virus Nipah secara alami dibawa oleh kelelawar buah dari genus Pteropus, yang juga dikenal sebagai flying fox atau kalong. Kelelawar ini tersebar luas di Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia, termasuk di Indonesia.
Meski membawa virus Nipah, kelelawar Pteropus tidak menunjukkan gejala sakit. Virus dapat ditemukan dalam air liur, urine, dan kotorannya, yang berpotensi mencemari buah atau lingkungan sekitar.
"Infeksi virus Nipah tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar buah, tetapi dapat menular ke manusia melalui kontak langsung maupun tidak langsung," tulis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam keterangannya.
Kelelawar Virus Nipah Hidup Dekat Permukiman
Fakta yang cukup mengkhawatirkan, beberapa jenis kelelawar penyebab virus Nipah diketahui hidup di sekitar permukiman, kebun, area pertanian, hingga pasar tradisional. Di Indonesia, kelelawar buah sering terlihat bertengger di pohon-pohon tinggi dekat rumah warga.
Kondisi ini meningkatkan risiko spillover event, yaitu peristiwa perpindahan virus dari hewan ke manusia. Penularan bisa terjadi saat manusia mengonsumsi buah yang telah terkontaminasi air liur atau urin kelelawar, atau minuman tradisional seperti nira yang tidak dimasak.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa wabah pertama virus Nipah pada 1998–1999 di Malaysia terjadi setelah virus berpindah dari kelelawar ke babi, lalu menginfeksi manusia yang bekerja dekat dengan hewan tersebut.
"Pada wabah awal, kelelawar menularkan virus Nipah ke babi, kemudian menyebar ke manusia," tulis CDC.
Meski genus Pteropus dikenal sebagai reservoir virus Nipah, para ahli menegaskan bahwa tidak semua kelelawar membawa virus ini. Risiko penularan sangat bergantung pada intensitas dan jenis kontak manusia dengan lingkungan yang terkontaminasi.
Kelelawar sendiri memiliki peran penting dalam ekosistem, mulai dari penyerbukan hingga penyebaran biji. Karena itu, pencegahan lebih diarahkan pada perubahan perilaku manusia, bukan pemusnahan satwa liar.
"Pengendalian virus Nipah seharusnya fokus pada pengurangan kontak berisiko, bukan membasmi kelelawar," tegas WHO.
Memahami jenis kelelawar penyebab virus Nipah menjadi dasar dalam upaya pencegahan. Beberapa langkah sederhana yang direkomendasikan para ahli antara lain:
- Menghindari konsumsi buah yang jatuh atau tampak bekas gigitan hewan
- Mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi
- Tidak mengonsumsi nira atau minuman tradisional yang tidak dimasak
- Menghindari kontak langsung dengan kelelawar dan hewan ternak yang sakit
- Menjaga kebersihan tangan secara rutin
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah. Oleh sebab itu, pencegahan dan kewaspadaan menjadi langkah paling efektif.
Dengan meningkatnya interaksi manusia dan satwa liar akibat perubahan lingkungan, pemahaman tentang jenis kelelawar penyebab virus Nipah menjadi semakin krusial. Kewaspadaan yang tepat, tanpa kepanikan, dapat membantu menekan risiko penularan sejak dini.

16 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473767/original/057718200_1768456004-susu_formula.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1740001/original/057180700_1508071681-Sederet-Manfaat-Rebung-untuk-Kesehatan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5145121/original/055491600_1740664704-cup-with-natural-healthy-herbal-tea-made-from-turmeric-honey-spices.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3451004/original/011072500_1620374351-pexels-photo-708777.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494512/original/008109200_1770294552-WhatsApp_Image_2026-02-05_at_19.15.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494553/original/051612800_1770296758-gumoh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5495175/original/005959500_1770358710-RSUD_PHTC.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079611/original/075660400_1736152693-1735888251296_ciri-ciri-flu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494751/original/006627400_1770338397-WhatsApp_Image_2026-02-05_at_8.32.28_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5494501/original/080537400_1770292937-rs_terpencil.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4993874/original/056837800_1730895197-fotor-ai-2024110619038.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5334428/original/084075100_1756715756-asian-researcher-in-laboratory-from-back.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5494586/original/076610600_1770299025-sysmex.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5113396/original/015916200_1738223131-bowl-with-rice-bottle-homemade-rice-water-wooden-table-diy-skincare-product_1048944-1520705.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4939257/original/022257700_1725774273-Ilustrasi_belajar__bekerja__skripsi__begadang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5241580/original/053250100_1748995770-20250604_065635.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494460/original/096934500_1770290602-WhatsApp_Image_2026-02-05_at_18.05.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5306557/original/080237800_1754404451-rapha-wilde-lVaySsrRcqE-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445267/original/074850000_1765846008-Ayaneo_Pocket_Play_Mirip_Xperia_Play_01.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443631/original/093420600_1765705921-Paul_Golding_Headshot.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5445498/original/027719300_1765857841-Timans_MLBB_Men_Indonesia_01.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5442827/original/066682400_1765602374-iOS_26.2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5446120/original/097028500_1765873369-Jay_Jang.jpeg)