Fatmawati di Mata Puti Guntur Soekarno, Ibu Bangsa Penuh Cinta

3 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

INFO TEMPO - Peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Negara pertama Republik Indonesia, Fatmawati Soekarno, menjadi momen emosional bagi keluarga besar Bung Karno, di Jakarta pada Sabtu, 7 Februari 2026. Dalam suasana yang sarat refleksi dan penghormatan, sosok Fatmawati dikenang bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai manusia dengan kasih sayang dan keteguhan nilai.

Dalam acara bertajuk “Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno dalam Balutan Wastra Nusantara” yang dirangkaikan dengan peluncuran Fatmawati Trophy, Puti Guntur Soekarno membagikan kisah-kisah personal tentang sang nenek. Di hadapan keluarga besar dan kader PDI Perjuangan, Puti tidak berbicara sebagai politisi, melainkan sebagai seorang cucu yang mengenang sosok nenek tercinta yang akrab disapa “Embu”.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bagi bangsa Indonesia, Fatmawati dikenang sebagai pahlawan yang menjahit Sang Saka Merah Putih. Namun bagi Puti, Fatmawati adalah seorang nenek penuh cinta yang mengekspresikan kasih sayangnya melalui hal-hal sederhana, terutama lewat masakan khas Bengkulu untuk anak dan cucunya.

“Sebagai seorang nenek, hari ini saya, Mas Romy, Mas Dade, sampai hari ini masih bisa merasakan kehangatan cinta dari Ibu Fatmawati. Cinta yang sederhana dari seorang ibu, melalui masakannya,” ujar Puti dengan suara bergetar.

Puti mengenang bagaimana Fatmawati kerap memasak sendiri, mulai dari rendang hingga sambal yang diulek dengan tangan, meski Bung Karno telah wafat dan anak-anaknya telah beranjak dewasa. Tradisi itu tetap dilakukan setiap kali keluarga berkumpul.

“Walaupun ayah saya sudah menikah, walaupun Pakde Guruh sudah besar, ketika kami berkumpul, pasti dengan penuh cinta kasih Ibu Fatmawati menyuapkan makanan-makanan itu ke mulut putra-putrinya. Itu pun yang kami, cucu-cucunya, rasakan,” kenangnya.

Dalam sambutannya, Puti juga menghadirkan narasi sejarah dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Ia menceritakan peristiwa ketika Fatmawati menerima dua helai kain merah dan putih dari seorang perwira Jepang pada Oktober 1944, saat dirinya tengah hamil tua mengandung Guntur Soekarnoputra.

“Bahan merah dan putih itu tidak ada yang tahu akan digunakan untuk apa. Bahkan Ibu Fatmawati sendiri tidak mengerti. Karena sedang mengandung, mungkin yang terlintas di pikirannya adalah kain itu untuk popok bayi,” tutur Puti.

Namun, dari situ lahir sebuah simbol kedaulatan bangsa. Tanpa mengetahui bahwa suaminya kelak menjadi Presiden Republik Indonesia atau dirinya menjadi Ibu Negara, Fatmawati menjahit kain tersebut menjadi bendera Merah Putih dengan tangannya sendiri, di tengah keterbatasan dan tekanan penjajahan.

Puti juga menegaskan peran Fatmawati sebagai ikon budaya. Tema Wastra Nusantara dinilai sangat merepresentasikan sosok Fatmawati yang selalu tampil percaya diri dengan identitas keindonesiaannya saat mendampingi Bung Karno dalam berbagai pertemuan kenegaraan.

“Beliau menampilkan diri sebagai Ibu Bangsa yang penuh percaya diri. Mendampingi Bung Karno menerima tamu-tamu negara dari segala bangsa, beliau selalu tampil dalam ciri khas keindonesiaan, dalam balutan wastra Nusantara,” jelas Puti.

Menurutnya, kebaya dan kain yang dikenakan Fatmawati bukan sekadar busana, melainkan bentuk diplomasi budaya yang menegaskan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang kaya, bermartabat, dan berkarakter.

Menutup sambutannya, Puti membagikan kisah pilu namun menguatkan tentang doa Fatmawati saat menunaikan ibadah umrah pada Mei 1980, sesaat sebelum wafat. Kepada sahabatnya, Rosihan Anwar, Fatmawati mengaku berdoa di depan Hajar Aswad bukan untuk dirinya sendiri.

“Aku berdoa untuk cita-cita semula, yaitu Indonesia yang merdeka. Janganlah terbang Indonesia yang merdeka ini,” ucap Puti menirukan pesan sang nenek.

Melalui peringatan ini dan peluncuran Fatmawati Trophy, Puti berharap generasi muda dapat meneladani Fatmawati bukan hanya sebagai pahlawan nasional, tetapi sebagai manusia yang mencintai keluarga, budaya, dan bangsanya dengan sepenuh hati.

“Ibu Bangsa itu tidak lahir karena beliau istri presiden. Ibu Bangsa lahir dari keteladanan beliau yang harus kita ikuti,” pungkas Puti.

Sebagai informasi, Fatmawati Trophy merupakan gagasan Ketua DPP PDI Perjuangan Prananda Prabowo sebagai upaya mengabadikan Fatmawati sebagai arsip nilai peradaban bangsa. Trofi tersebut dirancang oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga dalam bentuk figur perempuan berjubah berdiri tegak, melambangkan keteguhan, keheningan, dan kekuatan moral perempuan Indonesia.

Rangkaian acara juga diisi dengan tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno, serta ramah tamah keluarga dengan jamuan khas Bengkulu, seperti gulai pakis, lodeh sayur, pendap, sekoy, rendang lokan, hingga kudapan kue lepek binti. Sajian tersebut menjadi simbol kehadiran memori domestik dan kultural dalam narasi besar sejarah perjuangan bangsa.(*)

Read Entire Article