INFO TEMPO - Ekspor non-migas kembali menegaskan perannya sebagai tulang punggung perdagangan Indonesia. Sampai Oktober 2025, nilai ekspor non-migas tercatat mencapai US$ 223,1 miliar, jauh melampaui ekspor migas yang berkisar di angka US$ 10 miliar per tahun. Dengan kontribusi mencapai 95,96 persen dari total ekspor nasional, dominasi non-migas menunjukkan struktur perdagangan Indonesia kini semakin bertumpu pada sektor bernilai tambah.
Selama lima tahun terakhir, kinerja ekspor non-migas bergerak fluktuatif namun menunjukkan tren peningkatan. Ketahanan ekspor ini semakin penting di tengah dinamika permintaan global dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Beberapa kelompok produk menjadi kontributor terbesar ekspor non-migas Indonesia. Rinciannya:
- HS 15 – lemak dan minyak hewan/nabati (12,75 persen) => kami mengikuti jawaban BPS. Di situ tidak ada keterangan apakah ini angka dalam lima tahun atau periode kapan
- HS 27 – bahan bakar mineral (10,49 persen), seperti batu bara
- HS 72 – besi dan baja (9,70 persen), yang mencerminkan hasil hilirisasi komoditas nikel dan mineral lainnya.
Produk manufaktur seperti kendaraan bermotor, elektronik, serta produk perikanan juga mencatat pertumbuhan signifikan. Keberhasilan hilirisasi di sektor logam -khususnya besi, baja, dan nikel, menjadi pendorong kuat peningkatan ekspor bernilai tambah.
Data BPS pada kuartal III-2025 menunjukkan Tiongkok masih menjadi pasar terbesar ekspor non-migas Indonesia dengan kontribusi 23,71 persen, diikuti Amerika Serikat (11,08 persen) dan Jepang (6,59 persen). Meski begitu, pemerintah dan pelaku usaha juga terus memperluas pasar ke kawasan non-tradisional, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Diversifikasi pasar ini membuat ekspor lebih resilien terhadap gejolak global dan perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Kinerja ekspor non-migas memberikan multiplier effect yang kuat terhadap perekonomian domestik. Dengan tingginya permintaan dari luar negeri, kapasitas produksi industri pengolahan terus meningkat, sehingga mendorong pertumbuhan output nasional. Kenaikan ekspor non-migas secara langsung berdampak positif terhadap pertumbuhan PDB dari sisi industri pengolahan.
Pertumbuhan ekspor juga memperluas penyerapan tenaga kerja, terutama di sektor industri, logistik, transportasi, dan pelabuhan. Ketika produksi meningkat, kebutuhan tenaga kerja turut bertambah di seluruh rantai pasok.
Prospek ekspor non-migas diperkirakan tetap cerah. Hal ini tercermin dari neraca perdagangan Indonesia dengan catatan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, yang sebagian besar ditopang oleh komoditas non-migas. Dengan terus menguatnya produk hilirisasi -seperti besi baja dan nikel, kinerja ekspor non-migas pada tahun mendatang diperkirakan semakin solid. (*)

1 month ago
11





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445267/original/074850000_1765846008-Ayaneo_Pocket_Play_Mirip_Xperia_Play_01.png)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443631/original/093420600_1765705921-Paul_Golding_Headshot.png)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5445498/original/027719300_1765857841-Timans_MLBB_Men_Indonesia_01.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5442827/original/066682400_1765602374-iOS_26.2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5446120/original/097028500_1765873369-Jay_Jang.jpeg)
